Jumat, 03 Februari 2012

Perkembangan Siswa SD/MI

Usia siswa Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah berkisar antara usia 7 - 12 tahun. Pada usia ini siswa mengalami perkembangan pada hal-hal sebagai berikut:

A. Perkembangan Fisik-Motorik
Usia ini ditandai dengan pergerakan motorik yang lincah. Sehingga pada usia ini merupakan saat yang tepat untuk belajar berbagai keterampilan motorik, baik maotorik halus maupun motorik kasar. Motorik halus misalnya; menulis, menggambar, mengetik, merupa, menjahit, membuat kerajinan dari kertas dan lain-lain. Motorik kasar misalnya; belajar baris berbaris, seni bela diri, senam, berenang, atletik dan lain-lain.

Mengingat perkembangan siswa yang seperti itu, maka sekolah harus menyiapkan berbagai sarana dan prasaran yang menunjang untuk perkembangan motorik siswa. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Sekolah merancang pelajaran keterampilan yang bemanfaat bagi siswa
2. Sekolah harus memberikan pelajaran senam atau olahraga kepada siswa
3. Sekolah harus merekrut atau mengangkat guru yang sesuai dengan kebutuhan siswa
4. Sekolah menyiapkan sarana untuk keberlangsungan penyelenggaran pelajaran
tersebut, seperti alat-alat keterampilan, dan alat-alat olahraga.

B. Perkembangan Intelektual
Pada usia Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah anak sudah dapat mereaksi rangsanagan intelektual. Di usia ini siswa sudah mampu melaksanakan tugas-tugas belajar yang memerlukan kemampuan intelektual serta kemampuan kognitif. Berdasarkan perkembangan kognitif yang dikembangkan oleh Piaget usia SD/MI berada pada tahap operasi konkret yang ditandai dengan hal-hal sebagai berikut:
1. Siswa mampu mengklasifikasikan (mengelompokkan)
2. Siswa mampu menyusun atau mengasosiasikan seperti menghubungkan atau menghitung
3. Siswa mampu memecahkan masalah yang sederhana

Dengan perkembangan yang demikian, maka pada usia ini siswa sudah cukup untuk diberi berbagai kecakapan yang berguna untuk mengembangkan pola pikirnya. Kepada anak harus sudah diajarkan berbagai dasar-dasar keilmuan, seperti membaca, menulis dan berhitung (CALISTUNG. Sekolah harus memberikan fasilitas dan pelayanan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuannya. Misalnya dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan yang mendorong kreativitas siswa, seperti; lomba mengarang, menggambar, melukis, membaca puisi, berpidato serta cerdasa cermat.

C. Perkembangan Bahasa
Siswa SD/MI merupakan masa berkembangnya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata. Dengan kemampuan ini anak sudah gemar membaca dan mendengarkan cerita yang bersifat kritis. Misalnya tentang petualangan, perjalanan atau riwayat hidup. Tingkat berpikir anak pada saat ini sudah lebih maju dan sudah mampu menghubungkan masalah sebab-akibat, sehingga anak banyak melakukan pertanyaan.

Untuk menunjang perkembangan bahasa anak, di sekolah siswa harus diajarkan bahasa ibu dan bahasa Indonesia bahkan bahasa asing. Dengan diberikannya berbagai bahasa tersebut, anaka akan mempergunakannya untuk:
1. Berkomunikasi secara baik dengan orang lain
2. Mengekspresikan pikian, perasaan, sikap atau pendapatnya
3. Memahami isi dari setiap bahan bacaan

Supaya perkembangan bahasa anak tidak hanya maju dalam bentuk bahasa lisan, anak perlu diajarkan pula keterampilan bahasa tulisan. Cara yang dapat dikembangkan oleh guru/sekolah adalah dengan melatih anak supaya membuat karangan atau tulisan tentang berbagai hal yang ia ketahui, pengalaman hidupnya sendiri, dan lain-lain.

D. Perkembangan Emosi
Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi perilaku individu termasuk pula dalam proses belajar. Emosi positif seperti perasaan senang, gembira, bergairah, bersemangat atau rasa ingin tahu akan mendorong siswa untuk berkonsentasi pada aktivitas belajarnya. Siswa akan berusaha untuk memperhatikan penjelasan guru, melaksanakan tugas, membaca buku, berdiskusi, disiplin dalam belajar dan lain-lain.

Namun bila yang menyertai siswa merupakan emosis yang negatif, maka hal ini akan menjadi penghambat terhadap perkembangan siswa. Misalnya perasaan tidak senang, kecewa, kurang bergairah, dan malas. Denga emosi seperti itu, siswa dimungkinkan akan menemui kegagalan dalam perkembangan belajarnya.

Oleh karena itu, sekolah atau gur harus melakukan berbagai langkah untuk mendukung perkembangan emosi siswa, supaya emosi yang berkembang merupakan emosi positif. Guru harus menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Upaya yang bisa dikembangkan oleh guru, misalnya:
1. Mengembangkan iklim kelas yang bebas dari ketegangan.
2. Memperlakukan siswa sebagai pribadi yang memiliki harga diri.
3. Memberikan nilai secara aktif dan objektif.
4. Menciptakan kondisi kelas yang tertib, bersih dan sehat.

E. Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial pada siswa SD/MI ditandai dnegan adanya perluasan hubungan. Ia tidak hanya berhubungan dengan anggota keluarganya, melainkan sudah memiliki teman sebaya. Ia sudah mulai memiliki kesanggupan untuk menyesuaikan diri dari sikap egosentis menjdi kooperatif atau sosiosentirsi. Siswa dapat menyesuaikan diri dengan kelompok teman sebayanya.

Perkembangan sosial siswa disekolah bisa dikembangkan dengan cara melaksanakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan orang lain. Misalnya belajar berdiskusi, tugas kelompok dan lain-lain. Tugas kelompok ini harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan prestasinya dan mencapai tujuan bersama. Dengan pola belajar seperti ini, siswa akan mampu menghargai dirinya dan kelompoknya.

F. Perkembangan Kesadaran Beragama
Pada masa ini perkembangan kesadaran beragam anak masih bersifat reseptif namun sudah disertai dengan pengertian. Paham dan pandnagan tentang Tuhan diperolehnya secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang ia temui pada alam semesta. Kepercayaan siswa pada usia SD/MI bukan berdasarkan pemikiran, melainkan sikap emosi yang berhubungan erat dengan kebutuhan jiwa akan kasih sayang dan perlindungannya.

Untuk memupuk perkembangan kesadaran beragama anak, guru harus mengenalkan Allah dengan sifat kasih sayang kepada sesama, jangan mengenalkan Allah dengan sifat-sifat yang menghukum atau mengazab kepada orang yang melakukan kesalahan. Pada usia ini perkembangan agama anak masih bersifat statis berdasarkan sosialisasi orang tua, guru danlingkungannya.

Berdasarkan hal tersebut maka pendidikan agama di SD/MI harus menjadi perhatian semua pihak yang terkait, bukan hanya guru dan orang tua, tetapi semua orang yang melakukan kontak langsung dengan kehidupan siswa. Semua orang harus memberikan suri tauladan yang baik kepada anak, sehingga anak dapat menirunya.

Sumber:
Syamsu Yusuf L.N dan Nani M. Sugandhi (2011). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar